Sabtu, 29 November 2014

AKU DENGAN KAMU 

Aku termenung menatap seorang gadis –yang menurutku– manis sedang bermain tenis. Dia sangat manis, apalagi dengan lesung di pipinya. Tak heran banyak laki-laki jatuh hati kepadanya. Termasuk ‘dia’. Aku sering berangan-angan menjadi sosok gadis seperti dia. Sosok gadis dambaan hati. Gadis yang baik nan lembut.
Iri sering menghampiriku ketika melihatnya dengan laki-laki yang aku suka. Gadis itu bernama Marsya. Dia adalah sahabat terbaikku yang hampir setiap hari membuatku iri.
“Sya, ini kupinjami handukku”. Aku memberikan handuk yang selalu kupakai untuk olahraga kepada Marsya. Dia tersenyum kemudian meraih dan memakai handukku,
“Kamu tau saja kalau aku nggak bawa handuk”. Aku tersenyum simpul kepadanya. “kan handukmu ketinggalan di rumahku”.


“Oh, iya. Hehe, aku lupa. Nanti siang ku ambil. Aku mau main lagi. Dah!”.

Marsya pun pergi meninggalkan aku setelah meneguk air mineral yang dia bawa. Dengan senyuman yang tak pernah pergi jauh darinya, dia melanjutkan permainannya yang selalu mendapat pujian bersama Nathan, lelaki pujaanku sejak SMP.

Jujur, aku iri lahir batin dengan Marsya.

Aku melihat Nathan sedang kebingungan. Aku pun berinisiatif untuk mendekatinya. Aku mendekati Nathan yang – sepertinya –terlihat sedang susah payah mencari sebuah buku di rak bahasa.

“Lagi nyari apa, Than?”

Nathan menoleh ke arahku. Tiba-tiba kulihat seutas senyuman manis yang selama ini kulihat dari jauh. Aku pun tersenyum juga, dan aku yakin wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus.

“Aku lagi nyari buku belajar bahasa jepang. Kamu liat nggak?”

“Maksudmu, buku ini?” aku memperlihatkan sebuah buku pedoman bahasa jepang yang sedari tadi kubawa. “Nah, ini dia. Masih kamu pakai?”

“Ngh, enggak. Aku baru aja mau balikin. Mau kamu pinjem?” Nathan pun mengangguk. Aku memberikan buku tersebut kepada Nathan. Kulihat raut bahagia menyertainya. Sebegitukah orang yang mau belajar bahasa jepang?

“Thank’s Tika! Aku pergi dulu!” Nathan pergi meninggalkanku. Aku pun hanya menatap punggung Nathan yang perlahan menjauh. Dan jujur, di dalam hati kecil ini aku tersenyum bahagia.

‘…, watashi wa anata o aishite! Tika.’

Aku terkejut membaca sebuah pesan yang kutemukan di lokerku. Siapa yang mengirimnya? Seingatku, tak ada yang bisa berbahasa jepang di kelas ini selain aku dan Nathan. Bahkan Nathan pun baru belajar.

“Ada apa, Tik?” Tanya Marsya yang tiba-tiba menghampiriku. Aku pun hanya tersenyum kepadanya.

“Watashi wa anata o aishite, Tika. Artinya apa?”

“Artinya, Aku auka padamu Tika”

“Ciye… Tika ditembak seseorang. Siapa yang ngirim? Selamat ya!”

“Hehe, makasih. Um, entahlah. Sepertinya dia secret admirer deh”

Aku masih tersnyum sekaligus bingung. Apa yang mengirimiku ini benar dia? Apakah benar dia Nathan?

Sudah hampir 2 minggu aku mendapat kiriman. Entah itu bunga, coklat dan sebagainya. Dan semua itu disertai surat yang berisi kalimat ‘Watashi wa anata o aishite, Tika’. Aku benar-benar penasaran dengan pengirimnya. Semakin hari, aku semakin yakin kalau pengirim gelap itu adalah Nathan.

“Watashi wa anata o aishite! Watashi wa anata o aishite!”

Aku dan teman-temanku menengok keluar jendela. Melihat seseorang yang sedang menyatakan perasaannya dengan berteriak. Aku terkejut saat mendapati bahwa pria itu adalah Nathan.

“Watashi wa anata o aishite!” begitulah teriak Nathan yang melihat ke arah jendela kelasku di lantai dua.

Jadi, semua ini benar? Jadi pengirim gelap itu benar-benar Nathan? Hatiku berbinar-binar sekali.

“Tika, pengirim itu adalah Nathan” ucap Marsya. Aku pun tersenyum kepadanya.

“Watashi wa anata o aishite, MARSYA ARIZKA!!!”

Aku dan Marsya terkejut. Lho? Kok Marsya? Bukankah selama ini…

“Marsya! Aku suka kamu! SUKI DA!! Maukah kamu pacaran sama aku?” aku yang mendengarnya sangat tidak tahan. Aku pergi dan aku berlari. Berlari entah kemana yang penting hatiku tak terasa perih.

“Tika!!”

Aku menangis terisak di bawah pohon cemara yang ada di taman belakang sekolah. Aku memanjat dinding sekolah untuk sampai disini. Disini adalah tempat yang selalu kugunakan untuk menangis. Yah, bisa dibilang tempat ini adalah saksi bisu kesedihanku.

Aku sering bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku salah untuk lahir? Aku adalah gadis yang beruntung telah dilahirkan oleh seorang Mama yang tak pernah menganggap aku sebagai anaknya karena papa yang tak mau menikahi mama. Aku ikhlas mama tak pernah menyayangiku. Tapi salahkah aku jika ingin disukai dan disayangi laki-laki yang kusukai? Entahlah. Terkadang aku pun setuju dengan ucapan Mama. Aku tak pantas lahir.

Butiran-butiran airmataku tak dapat kutahan. Sedari tadi mereka telah membasahi seragam SMAku. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku merasakan kehangatan yang menenangkan hatiku. Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya. Menatap seorang laki-laki yang entah darimana datangnya namun aku merasa nyaman dengannya.

“Jangan menangis. Aku akan selalu di sampingmu, Tika”

Aku terkejut dengan kata-katanya. Aku tersenyum mendengar ucapannya yang lembut itu. Rasanya tentram sekali. Tiba-tiba dia menyandarkan kepalaku di bahunya. Jantungku berdegub kencang. Perasaan apa ini?

Aku merasa sangat tenang di sampingnya. Aku mulai memberanikan diri memeluk lengannya. Dan tanpa sadar aku menceritakan semua yang ada di benakku mulai dari aku yang tak dianggap anak oleh mama hingga Nathan yang awalnya kukira secret admirerku.

“Terkadang, apa yang kita harapkan itu tak selalu menjadi kenyataan. Bahkan aku…” ucapnya. Tiba-tiba aku mengantuk dan akhirnya aku tenggelam dalam mimpiku.

Aku mencoba membuka mataku. Buram, itulah yang kulihat. Aku mencium bau obat di sekelilingku. Apa ini di Rumah sakit?

“Ngh” aku mencoba membangunkan tubuhku yang terasa sangat berat.

“Tika, kiamu istirahat saja, jangan bangun dulu”. Aku mencoba menerka siapa orang yang berbicara padaku. Perlahan penglihatanku kembali normal dan kudapati seorang Marsya yang tengah berdiri di sampingku.

“Ini dimana Sya?” aku memegang kepalaku yang pusing.

“Sudah, kamu tidur saja dulu. Aku akan panggilkan dokter” aku pun menuruti ucapan Marsya. Aku mulai merebahkan tubuhku kembali.

Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksaku sebagaimana selayaknya seorang dokter memeriksa pasiennya setelah itu pergi dengan sopan.

“Aku kenapa Sya?”

“Tik, kamu sudah sebulan koma sejak kejadian Nathan nembak aku” ucap Marsya dengan nada amat bersalah. “Maaf, Tik. A… aku..”

“Aku tau Sya, aku tau kamu sebenarnya juga suka sama Nathan. Kamu cocok kok sama dia. Aku bakal ngalah buat kamu” tiba-tiba Marsya memelukku. “Maaf ya Tik”. Aku pun hanya tersenyum dan memeluknya.

“Tika! Kamu sudah sadar, Nak?” Tanya seseorang yang tak asing lagi bagiku. Marsya melepas pelukannya dan membiarkan aku menatap seorang wanita paruh baya yang sedang menangis di depanku.

“Mama…” sekejap mama langsung memelukku. Betapa senangnya hatiku. Inilah yang selama ini aku tunggu. Pelukan dari seorang mama yang aku cintai.

“Maafkan mama sayang… mama adalah mama yang bodoh… maaf sayang” ucap mama. Aku merasakan basah di pundakku. Mama menangis untukku. Aku pun membalas pelukan mama yang selama ini kutunggu dengan cintaku yang tulus. “Tika sayang mama” lirihku.

Tak terasa 3 bulan berlalu. Kini aku kembali bersekolah lagi. Tapi ada yang beda. Bukan hanya ‘ada yang berbeda’ tapi banyak yang berbeda. Dari sikap Mama yang selalu membuatku bahagia hingga Marsya yang kini juga sudah pacaran sama Nathan. Sedangkan aku? Aku masih menunggu lelaki itu. Lelaki yang membuatku tenang.

“Semuanya, hari ini kita akan mendapatkan teman baru. Silahkan masuk!” seru pak budi mempersilahkan seseorang yang akan menjadi teman baruku itu.

Dia mulai memasuki ruang kelasku. Betapa aku terkejut ketika mendapati siapa orang itu.

“Perkenalkan, namaku Arya. Salam kenal” ucapnya memperkenalkan diri. Kemudian pak budi mempersilahkan Arya untuk duduk di sebelahku karena kebetulan Marsya sedang tak ada.

Aku tersenyum menyambut Arya. Begitu pula dengannya. Dia juga tersenyum kepadaku. Senyuman yang hangat dan menenangkan. Aku kembali fokus dengan pelajaran Fisika dari pak budi.

“Apa Kamu suka dengan hadiah-hadiahku dulu, Tika?”

Aku terkejut dengan ucapannya. Aku pun menatapnya dengan tampang heran.


“Watashi wa anata o aishite, Tika”.
Berawal Dari Benci Hingga Menjadi Cinta

1 tahun sudah dia mendekatiku dan aku selalu menjauhinya sebab pada saat itu aku sangat benci dengan dia. 2 bulan kemudian aku ditembak dengannya. aku bingung harus menjawab apa, akhirnya aku menjawab iya tapi aku hanya mempermainkannya. keesokan harinya aku mutusin dia dengan alasan aku takut kena marah orangtua padahal orangtuaku sudah setuju jika aku berpacaran. 1 bulan kemudian aku berpacaran dengan temanku sendiri dan ia tetap saja mendekatiku.

Oh iya, aku lupa belum kenalin siapa diriku dan dia. kenalkan namaku fenny septya anggraini biasa dipanggil dengan fenny dan dia adalah Muhammad ainul yaqin biasa dipanggil dengan ainul. Oke aku lanjutkan ceritanya. 3 bulan kemudian dia menembakku lagi. padahal dia tahu bahwa aku sudah mempunyai pacar. dia rela aku duain walaupun dia merasakan sakit yang sangat mendalam. aku bingung untuk menjawabnya karena aku sangat membenci dia. aku bimbang dan akhirnya aku menerimanya kembali tapi aku kembali mempermainkannya. 3 hari kemudian aku mutusin dia lagi tapi, kenapa pada saat aku mutusin dia ngerasa kehilangan banget. karena pacarku mengetahui bahwa aku selingkuh pacarku langsung mutusin aku dan aku ngerasa biasa aja.

Selama 3 bulan dia tidak menhubungiku aku merasa kesepian dan aku selalu memikirkannya. malam harinya dia menghubungiku lagi via sms. hpku bergetar dan aku terkejut. aku lihat hpku tenyata itu pesan dari dirinya hatiku senang bukan main dengan semangat aku membalas pesannya. entah kenapa tiba tiba perasaanku berubah menjadi sayang. selama 3 bulan ia terus mendekatiku dan rasa sayangku kepada dia semakin bertambah.

Pada suatu malam ia mengirimi aku pesan begini “malam sayang” aku terkejut dan sangat senang sekali ketika dia memanggil aku dengan sebutan sayang. aku salah tingkah dan tanpa kusadari aku berteriak teriak seperti orang gila, masih seperti ya belum jadi gila, hehehehe. aku bertanya kepada dia kenapa kamu memanggil aku sayang, aku kan bukan siapa siapa kamu. dia menjawab pesanku “karena aku sayang sama kamu. apakah kamu mempunyai rasa yang sama sepertiku dan apakah kamu mau menjadi kekasihku?”. jantungku berdegup kencang perasaanku menjadi satu. dengan gugup aku membalas pesan dari dia “iya aku mau menjadi kekasihmu, aku juga mempunyai rasa yang sama sepertimu”. “tentunya kamu tak akan mempermainkanku lagi kan?”, tanyanya penasaran. “iya aku tak akan mempermainkanmu lagi, karena aku sungguh sungguh sayang kepadamu”, jawabku.

Sampai saat ini aku masih berhubungan dia. saling mengisi satu sama lain. selalu ada saat duka maupun duka.

Aku menyesal telah mempermainkannya tetapi saat ini aku sudah membayar perlakuanku kepada dirinya. perasaanku berawal dari benci hingga menjadi cinta.


I LOVE YOU AINUL.
SAHABAT SELAMANYA

Karya Monica Sucianto

Disana terlihat dua orang anak perempuan yang kelihatan bahagia. Mereka tertawa dan bercanda berdua. Ternyata mereka berdua adalah sahabat. Mereka berdua mernama Adell dan Airin. Mereka takkan terpisahkan. Adell dan airin sudah saling kenal sejak kecil. Mereka berdua tdk pernah terpisah. Mereka sekelas bahkan satu bangku.

Pagi harinya di sekolah…

“Rin……” sapa Adell. Tapi yang biasanya mereka sangat akrab, sekarang berubah terbalik. Airin tidak menjawab sapaan Adell. Dia hanya pergi menjauh dari Adell sambil merintih seperti menangisi sesuatu. Adell sangat bingung, airin adalah sahabat nya tapi mengapa dia berubah menjauhi Adell.

Dikelas mereka berdua hanya diam diaman. Airin hanya memandangi wajah Adel dengan mata yang berkaca kaca. Saat Adell menyapanya, dia hanya meneteskan air mata. Dia gak mau bicara apa masalah nya, padahan Adell itu sahabatnya. Hingga suatu hari bangku Airin kosong, dia pindah ke bangku dipojok kelas yang jauh Dari Adell. Apa yang terjadi dengan nya?. Dia bukan Airin yang seperti biasanya.

Apakah Airin marah pada Adel?. Tapi gak mungkin. Soalnya Adel itu sahabatnya. Adell gak mau sahabat satu satunya pergi.

Adell takut Airin arah padanya. Adelpun meletakkan secarik surat kecil di depan rumah Airin. Surat itu tertulis…….

Airin….. kamu marah ya sama aku. Kalo aku salah bilang aja aku bakal minta maaf sama kamu. Sorry ya sebagai sahabat aku gak bias jadi seperti yang kamu inginkan. Kalo kamu udah gak mau jadi sahabatku lagi aku gak bakal marah, tapi hati kecilku ini tetap sedih kalo kamu gak mau jadi sahabatku lagi. Kuharap kamu cepat membalasnya

Dari Adell

Adell selalu memeriksa kotak surat di depan rumah nya, berharap ada surat balasan dari Airin. Tapi hasilnya selalu nihil. Gak ada satu surat pun di kotak surat tua itu. Adell sudah tak sanggup menunggu lagi. Dimalam yang dingin ini dia langsung berjalan cepat menuju rumah Airin. Adell tak bisa berhenti sebelum sampai di rumah Airin. Tiba tiba langkah nya berhenti mendadak tepat di tujun nya, rumah Airin. Adell melihat Airin sedang menangis di depan jendela sambil memegang surat dari Adell. Disitu terlihat Adell kebingungan, kenapa Airin nangis baca surat dari Adell???.

“Airin……..”teriak Adell dari depan rumah Airin. Tapi disitu Airin malah pergi. Dan tak terlihat lagi Airin di depan jendela. Adell pun pergi dengan langkah pelannya dan sekali kali menoleh ke belakang mengharapkan Airin keluar dari rumah nya.

Keesokan harinya, di papan absen tertulis nama “Airin”. Adell pun menoleh kearah bangku Airin yang jauh darinya. Ternyata benar, Airin gak masuk. Sekarang di hari hari Adell udah gak ada canda dan tawa lagi bersama Airin. Mungkin Airin “udah punya sahabat yang lebih baik dari ku”pikir Adell.

Adell sangat tidak bersemangat melangkah pulang kerumah nya. Biasanya Adell pulang sama Airin. Sekarang Adell hanya sendrian. Disitu terlihat Adell sudah hampir meneteskan air mata kesepian.

Sesampainya di rumah, Adell melihat ada surat di dalam kotak surat depam rumahnya. Adell pun membuka kotak surat tua itu perlahan lahan, dan mengambil surat di dalam nya. Disitu Adell sangat terkejut, itu surat dari Airin.

Surat itu tertulis……

Maaf ya Dell, Aku bukan gak mau jadi sahabat kamu lagi. Cuma setiap aku ngeliat kamu, rasanya pengen nangis. Aku bakal pergi ke luar kota. Aku sedih setiap ngeliat kamu, soalnya kita bakal berpisah lama. Mungkin kalo sudah satu tahun aku pergi kamu bias jemput sku di bandara, itu juga kalo kamu gak lupa sama aku. Bentar lagi aku mau berangkat ke bandara, selamat tinggal

Dari Airin

Belum sempat Adell ganti baju, Adell langsung lari ke rumah Airin. Adell lihat, rumah Airin kosang. Tiba tiba terdengat suara mobil. Suara mobil itu terdengar dari garasi Airin. Tiba tiba mobil Airin keluar dari garasi dan didalam nya ada Airin yang melambaikan tangan pada Adell. “Selamat tinggal Adell, semoga satu tahun kedepan kita masih bias bertemu” teriak Airin semakin mengecil.

Semejak itu Adell sering terlihat menyendiri. Adell terlihat kesepian tanpa Airin yang biasa menemani nya. Adell tak sabar satu tahun berlalu. Hingga penantiannya pun tercapai. Sudah satu tahun berlalu. Tidak lupa Adall segera menuju bandara. Adell terus menunggu tanpa ada kata lelah. Waktupun terus berjalan, sudah dua puluh empat jam Adell menunggu, tapi gak ada tenda tanda dari Airin.

Keluarga Adell udah kebingungan mencari Adell. Semua tempat kesukaan Adell udah di cari, tapi Adell tetap gak ketemu. Orang tua Adell gak berfikir mencari Adell ke bandara.

Tiga hari tiga malan Adell menunggu. Hingga Akhirnya Adell putus asa. “mungkin Airin udah gak mau kembali lagi” pikir Adell. Dengan langkah kecilnya Adell pun mencoba berjalan pulang. Dengan sedikit tenaga yang Adell miliki, akhirnya Adell bias pulang. Adell langsung disambut senang oleh keluarganya.

“Sayang… kamu kemana aja? Kok gak pulang pulang?? Mama ambilin teh ya??” Tanya mama bertubi tubi. Adell hanya bias menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian mama datang dengan memegang secangkir teh. Tapi, tiba tiba teh itu terjatuh. Disitu Adell sudah tergeletak di lantai. “sayang….sayang bangun kamu kenapa?”ucap mama kebingungan. Ternyata Adell udah gak ada. “Adell jangan tinggalin mama, mama sayang Adell”teriak mama sambil menetaskan air mata.


Adell pun di makamkan di sebelah makam mewah. “selamat tinggal ya sayang, semoga kamu tetap inget sama mama. Mama tetap doain kamu, mama bekal terus sayang kamu walau gak bias mama ucapkan langsung di depan mu mama tetap selalu ada buat kamu sayang GOOD BYE FOREVER” ucap mama di depan makan Adell. Ternyata makam meweh di sebelah makam Adell itu………. Makam Airin. Airin sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Gak ada yang bisa ngabarin Adell soalnya semua keluarga Airin tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Walau begitu mereka tetap Abadi menjadi sahabat walau gak dibumi lagi.