AKU DENGAN KAMU
Aku termenung menatap seorang gadis –yang menurutku– manis sedang
bermain tenis. Dia sangat manis, apalagi dengan lesung di pipinya. Tak heran
banyak laki-laki jatuh hati kepadanya. Termasuk ‘dia’. Aku sering
berangan-angan menjadi sosok gadis seperti dia. Sosok gadis dambaan hati. Gadis
yang baik nan lembut.
Iri sering menghampiriku ketika melihatnya dengan laki-laki yang
aku suka. Gadis itu bernama Marsya. Dia adalah sahabat terbaikku yang hampir
setiap hari membuatku iri.
“Sya, ini kupinjami handukku”. Aku memberikan handuk yang selalu
kupakai untuk olahraga kepada Marsya. Dia tersenyum kemudian meraih dan memakai
handukku,
“Kamu tau saja kalau aku nggak bawa handuk”. Aku tersenyum simpul
kepadanya. “kan handukmu ketinggalan di rumahku”.
“Oh, iya. Hehe, aku lupa. Nanti siang ku ambil. Aku mau main lagi.
Dah!”.
Marsya pun pergi meninggalkan aku setelah meneguk air mineral yang
dia bawa. Dengan senyuman yang tak pernah pergi jauh darinya, dia melanjutkan
permainannya yang selalu mendapat pujian bersama Nathan, lelaki pujaanku sejak
SMP.
Jujur, aku iri lahir batin dengan Marsya.
Aku melihat Nathan sedang kebingungan. Aku pun berinisiatif untuk
mendekatinya. Aku mendekati Nathan yang – sepertinya –terlihat sedang susah
payah mencari sebuah buku di rak bahasa.
“Lagi nyari apa, Than?”
Nathan menoleh ke arahku. Tiba-tiba kulihat seutas senyuman manis
yang selama ini kulihat dari jauh. Aku pun tersenyum juga, dan aku yakin
wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus.
“Aku lagi nyari buku belajar bahasa jepang. Kamu liat nggak?”
“Maksudmu, buku ini?” aku memperlihatkan sebuah buku pedoman
bahasa jepang yang sedari tadi kubawa. “Nah, ini dia. Masih kamu pakai?”
“Ngh, enggak. Aku baru aja mau balikin. Mau kamu pinjem?” Nathan
pun mengangguk. Aku memberikan buku tersebut kepada Nathan. Kulihat raut
bahagia menyertainya. Sebegitukah orang yang mau belajar bahasa jepang?
“Thank’s Tika! Aku pergi dulu!” Nathan pergi meninggalkanku. Aku
pun hanya menatap punggung Nathan yang perlahan menjauh. Dan jujur, di dalam
hati kecil ini aku tersenyum bahagia.
‘…, watashi wa anata o aishite! Tika.’
Aku terkejut membaca sebuah pesan yang kutemukan di lokerku. Siapa
yang mengirimnya? Seingatku, tak ada yang bisa berbahasa jepang di kelas ini
selain aku dan Nathan. Bahkan Nathan pun baru belajar.
“Ada apa, Tik?” Tanya Marsya yang tiba-tiba menghampiriku. Aku pun
hanya tersenyum kepadanya.
“Watashi wa anata o aishite, Tika. Artinya apa?”
“Artinya, Aku auka padamu Tika”
“Ciye… Tika ditembak seseorang. Siapa yang ngirim? Selamat ya!”
“Hehe, makasih. Um, entahlah. Sepertinya dia secret admirer deh”
Aku masih tersnyum sekaligus bingung. Apa yang mengirimiku ini
benar dia? Apakah benar dia Nathan?
Sudah hampir 2 minggu aku mendapat kiriman. Entah itu bunga,
coklat dan sebagainya. Dan semua itu disertai surat yang berisi kalimat
‘Watashi wa anata o aishite, Tika’. Aku benar-benar penasaran dengan
pengirimnya. Semakin hari, aku semakin yakin kalau pengirim gelap itu adalah
Nathan.
“Watashi wa anata o aishite! Watashi wa anata o aishite!”
Aku dan teman-temanku menengok keluar jendela. Melihat seseorang
yang sedang menyatakan perasaannya dengan berteriak. Aku terkejut saat
mendapati bahwa pria itu adalah Nathan.
“Watashi wa anata o aishite!” begitulah teriak Nathan yang melihat
ke arah jendela kelasku di lantai dua.
Jadi, semua ini benar? Jadi pengirim gelap itu benar-benar Nathan?
Hatiku berbinar-binar sekali.
“Tika, pengirim itu adalah Nathan” ucap Marsya. Aku pun tersenyum
kepadanya.
“Watashi wa anata o aishite, MARSYA ARIZKA!!!”
Aku dan Marsya terkejut. Lho? Kok Marsya? Bukankah selama ini…
“Marsya! Aku suka kamu! SUKI DA!! Maukah kamu pacaran sama aku?”
aku yang mendengarnya sangat tidak tahan. Aku pergi dan aku berlari. Berlari
entah kemana yang penting hatiku tak terasa perih.
“Tika!!”
Aku menangis terisak di bawah pohon cemara yang ada di taman
belakang sekolah. Aku memanjat dinding sekolah untuk sampai disini. Disini
adalah tempat yang selalu kugunakan untuk menangis. Yah, bisa dibilang tempat
ini adalah saksi bisu kesedihanku.
Aku sering bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku salah untuk
lahir? Aku adalah gadis yang beruntung telah dilahirkan oleh seorang Mama yang
tak pernah menganggap aku sebagai anaknya karena papa yang tak mau menikahi
mama. Aku ikhlas mama tak pernah menyayangiku. Tapi salahkah aku jika ingin
disukai dan disayangi laki-laki yang kusukai? Entahlah. Terkadang aku pun
setuju dengan ucapan Mama. Aku tak pantas lahir.
Butiran-butiran airmataku tak dapat kutahan. Sedari tadi mereka
telah membasahi seragam SMAku. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang duduk di
sebelahku. Aku merasakan kehangatan yang menenangkan hatiku. Aku mendongakkan
kepalaku dan menatapnya. Menatap seorang laki-laki yang entah darimana
datangnya namun aku merasa nyaman dengannya.
“Jangan menangis. Aku akan selalu di sampingmu, Tika”
Aku terkejut dengan kata-katanya. Aku tersenyum mendengar
ucapannya yang lembut itu. Rasanya tentram sekali. Tiba-tiba dia menyandarkan
kepalaku di bahunya. Jantungku berdegub kencang. Perasaan apa ini?
Aku merasa sangat tenang di sampingnya. Aku mulai memberanikan
diri memeluk lengannya. Dan tanpa sadar aku menceritakan semua yang ada di
benakku mulai dari aku yang tak dianggap anak oleh mama hingga Nathan yang
awalnya kukira secret admirerku.
“Terkadang, apa yang kita harapkan itu tak selalu menjadi
kenyataan. Bahkan aku…” ucapnya. Tiba-tiba aku mengantuk dan akhirnya aku
tenggelam dalam mimpiku.
Aku mencoba membuka mataku. Buram, itulah yang kulihat. Aku
mencium bau obat di sekelilingku. Apa ini di Rumah sakit?
“Ngh” aku mencoba membangunkan tubuhku yang terasa sangat berat.
“Tika, kiamu istirahat saja, jangan bangun dulu”. Aku mencoba
menerka siapa orang yang berbicara padaku. Perlahan penglihatanku kembali
normal dan kudapati seorang Marsya yang tengah berdiri di sampingku.
“Ini dimana Sya?” aku memegang kepalaku yang pusing.
“Sudah, kamu tidur saja dulu. Aku akan panggilkan dokter” aku pun
menuruti ucapan Marsya. Aku mulai merebahkan tubuhku kembali.
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksaku sebagaimana
selayaknya seorang dokter memeriksa pasiennya setelah itu pergi dengan sopan.
“Aku kenapa Sya?”
“Tik, kamu sudah sebulan koma sejak kejadian Nathan nembak aku”
ucap Marsya dengan nada amat bersalah. “Maaf, Tik. A… aku..”
“Aku tau Sya, aku tau kamu sebenarnya juga suka sama Nathan. Kamu
cocok kok sama dia. Aku bakal ngalah buat kamu” tiba-tiba Marsya memelukku.
“Maaf ya Tik”. Aku pun hanya tersenyum dan memeluknya.
“Tika! Kamu sudah sadar, Nak?” Tanya seseorang yang tak asing lagi
bagiku. Marsya melepas pelukannya dan membiarkan aku menatap seorang wanita
paruh baya yang sedang menangis di depanku.
“Mama…” sekejap mama langsung memelukku. Betapa senangnya hatiku.
Inilah yang selama ini aku tunggu. Pelukan dari seorang mama yang aku cintai.
“Maafkan mama sayang… mama adalah mama yang bodoh… maaf sayang”
ucap mama. Aku merasakan basah di pundakku. Mama menangis untukku. Aku pun
membalas pelukan mama yang selama ini kutunggu dengan cintaku yang tulus. “Tika
sayang mama” lirihku.
Tak terasa 3 bulan berlalu. Kini aku kembali bersekolah lagi. Tapi
ada yang beda. Bukan hanya ‘ada yang berbeda’ tapi banyak yang berbeda. Dari
sikap Mama yang selalu membuatku bahagia hingga Marsya yang kini juga sudah
pacaran sama Nathan. Sedangkan aku? Aku masih menunggu lelaki itu. Lelaki yang
membuatku tenang.
“Semuanya, hari ini kita akan mendapatkan teman baru. Silahkan
masuk!” seru pak budi mempersilahkan seseorang yang akan menjadi teman baruku
itu.
Dia mulai memasuki ruang kelasku. Betapa aku terkejut ketika
mendapati siapa orang itu.
“Perkenalkan, namaku Arya. Salam kenal” ucapnya memperkenalkan
diri. Kemudian pak budi mempersilahkan Arya untuk duduk di sebelahku karena
kebetulan Marsya sedang tak ada.
Aku tersenyum menyambut Arya. Begitu pula dengannya. Dia juga
tersenyum kepadaku. Senyuman yang hangat dan menenangkan. Aku kembali fokus
dengan pelajaran Fisika dari pak budi.
“Apa Kamu suka dengan hadiah-hadiahku dulu, Tika?”
Aku terkejut dengan ucapannya. Aku pun menatapnya dengan tampang
heran.
“Watashi wa anata o aishite, Tika”.
Terimakasih Anda telah membaca tulisan / artikel di atas tentang :
Judul:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Seputar kehebatan
Semoga informasi mengenai bisa memberikan manfaat bagi Anda. Jangan lupa Komentar Anda sangat dibutuhkan, di bawah ini.
Judul:
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Seputar kehebatan
Semoga informasi mengenai bisa memberikan manfaat bagi Anda. Jangan lupa Komentar Anda sangat dibutuhkan, di bawah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar